4.707 Bayi di Medan Terdata Zero Dose Imunisasi pada Tahun 2025

Isu kesehatan anak di Kota Medan semakin mendesak, terutama dengan angka bayi yang terdata mengalami zero dose imunisasi. Situasi ini tidak hanya mengkhawatirkan, tetapi juga menuntut perhatian serius dari berbagai pihak. Dengan sebanyak 4.707 bayi tercatat belum mendapatkan imunisasi dasar pada tahun 2025, inisiatif untuk menekan angka ini menjadi sangat penting. Upaya kolaboratif lintas sektor diharapkan dapat memperkuat komitmen untuk meningkatkan kualitas kesehatan generasi mendatang.
Tantangan Imunisasi di Kota Medan
Kota Medan menghadapi tantangan signifikan dalam pelaksanaan program imunisasi. Dalam sambutan resmi yang dibacakan oleh Ketua I Bidang Pembinaan Karakter Keluarga TP PKK Medan, Ismiralda Wiriya Alrahman, terungkap bahwa masih banyak anak yang tidak mendapatkan vaksinasi sama sekali. Istilah “zero dose” merujuk pada anak yang belum menerima vaksin apa pun, yang sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit menular.
Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2025, sebanyak 4.707 bayi di Kota Medan teridentifikasi sebagai bayi yang mengalami zero dose imunisasi. Angka ini dihitung berdasarkan imunisasi difteri, pertusis, dan tetanus dosis pertama yang belum dicapai. Ini menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan besar yang harus dilakukan untuk meningkatkan angka cakupan imunisasi di daerah ini.
Target Peningkatan Cakupan Imunisasi
Menanggapi situasi ini, pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk meningkatkan cakupan imunisasi dalam lima tahun ke depan. Beberapa target yang telah ditetapkan mencakup:
- Meningkatkan cakupan imunisasi bayi lengkap dari 80% pada tahun 2025 menjadi 95% pada tahun 2029.
- Meningkatkan cakupan imunisasi lengkap untuk 14 jenis vaksin dari 74% menjadi 90%.
- Meningkatkan cakupan imunisasi untuk anak usia sekolah dasar dari 88% menjadi 95%.
Target-target ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan anak-anak di Kota Medan mendapatkan perlindungan optimal dari penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.
Proses Imunisasi yang Berkelanjutan
Airin juga menekankan pentingnya proses imunisasi yang berkelanjutan dari tahap bayi hingga anak memasuki usia sekolah. Pemberian vaksin harus dilakukan secara berurutan sesuai dengan usia anak, dimulai sejak lahir hingga mereka siap untuk memasuki dunia pendidikan. Hal ini bertujuan untuk membangun ketahanan kesehatan sejak dini dan menyiapkan anak-anak untuk masa depan yang lebih sehat.
Sinergi Antara Sektor Pemerintah dan Swasta
Dalam rangka menciptakan sinergi yang kuat, rapat koordinasi yang berlangsung di Gedung PKK Medan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan. Di antaranya adalah Ketua Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Dr. Ade Jubaedah, Ketua Pengurus Daerah IBI Provinsi Sumatera Utara, Betty Mangkuaji, serta Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, Surya Syahputra Pulungan. Kehadiran berbagai pihak ini diharapkan dapat memperkuat dukungan terhadap pelaksanaan imunisasi di Kota Medan.
Melalui kolaborasi ini, diharapkan dapat dihasilkan strategi yang lebih efektif untuk menurunkan angka zero dose imunisasi. Ini mencakup pendekatan yang lebih inklusif dan melibatkan masyarakat secara aktif dalam mendukung program imunisasi.
Komitmen Bersama untuk Penurunan Angka Zero Dose
Pada rapat koordinasi tersebut, dilakukan juga penandatanganan komitmen bersama antara Provinsi Sumatera Utara dan Kota Medan untuk menurunkan angka zero dose imunisasi. Komitmen ini mencakup beberapa poin penting, di antaranya:
- Memastikan kesuksesan Pekan Imunisasi Dunia.
- Mengeliminasi penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.
- Menunjukkan dukungan terhadap pencapaian imunisasi dan menghentikan zero dose.
- Mendorong kemitraan untuk memperluas penyebaran informasi tentang pentingnya imunisasi.
- Memobilisasi sumber daya dari sektor swasta untuk mendukung pelaksanaan imunisasi pada tahun 2026.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat memperkuat upaya dalam menyukseskan program imunisasi dan menekan angka bayi zero dose di Medan.
Pentingnya Edukasi Masyarakat
Di samping upaya pemerintah dan sektor swasta, edukasi masyarakat juga memegang peranan penting dalam meningkatkan kesadaran tentang imunisasi. Banyak orang tua yang mungkin belum memahami pentingnya vaksinasi untuk melindungi anak-anak mereka dari penyakit berbahaya. Oleh karena itu, kampanye penyuluhan yang efektif perlu dilakukan untuk:
- Meningkatkan pengetahuan orang tua tentang manfaat imunisasi.
- Menyediakan informasi yang jelas dan mudah dipahami mengenai jadwal imunisasi.
- Menjawab pertanyaan dan keraguan yang mungkin dimiliki oleh orang tua.
- Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam program imunisasi.
- Menjalin kerjasama dengan tokoh masyarakat untuk menyebarkan informasi.
Dengan meningkatkan pemahaman masyarakat, diharapkan angka bayi zero dose imunisasi dapat ditekan secara signifikan.
Peran Kader Kesehatan dalam Imunisasi
Kader kesehatan juga memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung program imunisasi. Mereka adalah ujung tombak dalam menyampaikan informasi dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Dalam konteks ini, kader kesehatan diharapkan untuk:
- Menjadi penghubung antara pemerintah dan masyarakat dalam hal program imunisasi.
- Mendukung pelaksanaan imunisasi di lapangan dengan melakukan pendataan.
- Memberikan informasi yang akurat kepada orang tua mengenai pentingnya vaksinasi.
- Menjalin komunikasi yang baik dengan tenaga kesehatan.
- Melakukan follow-up terhadap anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi.
Dengan dukungan yang kuat dari kader kesehatan, diharapkan program imunisasi dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
Kesimpulan
Perlu adanya upaya kolaboratif antara pemerintah, sektor swasta, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat untuk mengatasi permasalahan bayi zero dose imunisasi di Medan. Dengan pendekatan yang terintegrasi dan komitmen bersama, diharapkan angka bayi yang tidak mendapatkan imunisasi dapat ditekan, sehingga kesehatan generasi mendatang dapat terjamin. Keberhasilan program imunisasi adalah indikator penting bagi masa depan kesehatan masyarakat.
