Hari Damai Aceh: LMND Singkil Tekankan Pentingnya Realisasi MoU Helsinki

Hari Damai Aceh, yang diperingati setiap 15 Agustus, menjadi momen penting untuk mengevaluasi pelaksanaan Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki. MoU ini ditandatangani antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus 2005. Menjelang peringatan 21 tahun perdamaian di Aceh, Ketua Eksekutif Kabupaten Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EK LMND) Aceh Singkil, Surya Padli, menekankan perlunya refleksi mendalam tentang realisasi kesepakatan tersebut.
Pentingnya Menjaga Perdamaian yang Berkelanjutan
Surya mengungkapkan bahwa perdamaian yang telah terjalin selama lebih dari dua dekade ini tidak dapat dipahami hanya sebagai akhir dari konflik bersenjata. Menurutnya, perdamaian sejati harus diwujudkan melalui pemenuhan keadilan, kesejahteraan rakyat, pembangunan yang merata, serta penghormatan terhadap kekhususan Aceh, sesuai dengan amanat dalam MoU Helsinki dan Undang-Undang Pemerintahan Aceh.
“Perdamaian Aceh harus terus dirawat melalui langkah-langkah nyata. Realisasi kesepakatan damai menjadi kunci agar masyarakat dapat merasakan manfaat dari perdamaian yang telah diperjuangkan bersama,” tegas Surya dalam pernyataannya menjelang peringatan tersebut.
Dialog dan Komunikasi yang Konstruktif
Surya juga menyoroti pentingnya hubungan yang baik antara Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat. Ia berpendapat bahwa kerjasama ini harus didasarkan pada saling percaya dan komunikasi yang konstruktif. Ketika terdapat perbedaan pandangan mengenai implementasi beberapa poin dalam kesepakatan damai, hal itu seharusnya diselesaikan melalui dialog dan mekanisme konstitusional yang ada.
Peran Generasi Muda dalam Menjaga Perdamaian
Generasi muda juga memiliki peran krusial dalam menjaga keberlanjutan proses perdamaian. Surya percaya bahwa anak muda Aceh perlu terlibat aktif dalam pembangunan daerah, menjaga ruang demokrasi, serta memperkuat persatuan di tengah berbagai tantangan sosial dan politik yang ada.
“Generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton sejarah. Perdamaian adalah warisan yang harus dijaga, sekaligus tanggung jawab yang harus diisi dengan karya dan kontribusi nyata,” ujarnya dengan penuh semangat.
Menjaga Persaudaraan di Tengah Tantangan
Dalam rangka memperingati Hari Damai Aceh 2026, Surya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga rasa persaudaraan. Ia mengingatkan agar tidak mudah terprovokasi oleh kepentingan yang dapat mengganggu stabilitas daerah. Selain itu, Surya juga meminta pemerintah pusat untuk tetap konsisten dalam menjalankan komitmen yang telah disepakati dalam MoU Helsinki.
MoU Helsinki sebagai Fondasi Pembangunan
Bagi Surya, MoU Helsinki bukanlah sekadar dokumen yang menandai berakhirnya konflik, melainkan merupakan fondasi bagi pembangunan Aceh yang damai, maju, dan sejahtera. Oleh karena itu, peringatan Hari Damai Aceh harus dijadikan pengingat bahwa perdamaian perlu dijaga melalui keadilan, kesejahteraan, dan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat.
“Perdamaian yang sejati bukan hanya berarti tidak adanya perang, tetapi juga tentang kehadiran keadilan, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Aceh,” tutupnya dengan tegas.

