slot qris slot depo 10k

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

bobby nasutionGubernur Sumatera Utaramedia terpercayaPosmetro MedanSUMATERA UTARA

Bobby Nasution Ungkap Proyek Strategis Sumut di IMT-GT ke-32, Dari Sei Mangkei Hingga Toba Caldera Resort

Pertemuan Tingkat Menteri Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) ke-32 baru-baru ini menjadi momen penting bagi Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, untuk memaparkan berbagai proyek strategis dan peluang investasi di wilayahnya. Dalam forum ini, Bobby menegaskan potensi Sumut sebagai kawasan vital dalam pengembangan kerja sama ekonomi regional IMT-GT, yang diharapkan dapat memperkuat konektivitas dan pertumbuhan ekonomi di kawasan ini.

Pemaparan Proyek Unggulan Sumut

Pada sesi pelaporan yang berlangsung di Hotel JW Marriott Medan, Gubernur Bobby Nasution, yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Gubernur dan Menteri Utama (CMGF), menyampaikan berbagai proyek unggulan yang sedang dikembangkan di Sumatera Utara. Di antara proyek-proyek tersebut, Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei menjadi sorotan utama dengan luas area mencapai 1.934 hektare. Selain itu, proyek ambisius Toba Caldera Resort yang bernilai sekitar US$1,73 miliar juga menjadi bagian penting dari rencana pengembangan daerah wisata di Danau Toba.

Tidak hanya itu, ada pula Kawasan Industri Strategis Sumatera Utara (KISS) seluas 2.445 hektare, yang dirancang untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Di samping itu, pengembangan pusat ekonomi kreatif, penyelenggaraan MICE (Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions), serta smart city terpadu di Deliserdang menunjukkan komitmen Sumut dalam menciptakan infrastruktur yang mendukung perkembangan ekonomi kreatif.

Proyek Strategis dari Provinsi Lain di Sumatera

Selain Sumatera Utara, beberapa provinsi lain di Sumatera juga mengemukakan berbagai proyek strategis yang memiliki potensi investasi besar. Aceh, misalnya, sedang mengembangkan proyek rumah sakit wisata medis di Sabang dengan nilai investasi sekitar US$20,89 juta. Di sisi lain, Sumatera Barat berfokus pada hilirisasi produk-produk halal yang diperkirakan menghasilkan nilai ekspor sebesar US$2,78 miliar.

Provinsi Riau juga tidak kalah menarik dengan proyek Jalur RORO (Roll-on/Roll-off) Dumai-Melaka yang bertujuan meningkatkan konektivitas antarnegara. Sementara itu, Kepulauan Riau mengembangkan Kawasan Perdagangan Bebas Batam-Bintan-Karimun yang diharapkan dapat menarik lebih banyak investor. Jambi juga memiliki Kawasan Ekonomi Khusus Ujung Jabung senilai Rp87,87 triliun, dan Lampung menargetkan investasi pariwisata mencapai Rp19 triliun.

Kerangka Kerja Pembangunan Berkelanjutan

Dalam laporannya, Gubernur Bobby juga menyoroti kemajuan pelaksanaan Kerangka Kerja Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan IMT-GT, yang menunjukkan peningkatan signifikan di berbagai kota. Sekretariat ASEAN mencatat terdapat 47 kegiatan tingkat regional serta 162 kegiatan kerja yang telah dilaksanakan di bawah Rencana Strategis Konektivitas ASEAN. Selain itu, Jaringan Smart City ASEAN kini telah berkembang menjadi 38 kota anggota yang saling berkolaborasi dalam penggunaan teknologi untuk memperbaiki kualitas hidup warganya.

Rekomendasi Forum CMGF

Gubernur Bobby Nasution juga menyampaikan beberapa rekomendasi dari forum CMGF yang dirangkum dalam lima prioritas utama. Pertama, mobilisasi sumber daya di sepanjang koridor ekonomi IMT-GT, dengan negara bagian atau provinsi berperan sebagai penggerak utama dalam mempercepat konektivitas dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Ini akan menjadi langkah awal untuk menciptakan sinergi yang lebih baik antara negara-negara anggota.

Kedua, integrasi konsep hijau dalam kerangka kerja CMGF bertujuan untuk menyelaraskan kebijakan Green City dengan Sustainable Urban Development Framework (SUDF). Ketiga, penting untuk mempertahankan IMT-GT Green City Award sebagai program tahunan yang memberikan penghargaan kepada kota-kota yang berkomitmen pada pembangunan hijau, inklusif, dan tangguh.

Keempat, penguatan pelaksanaan SUDF melalui koordinasi antara tingkat nasional dan daerah serta platform Konferensi Tingkat Menteri Green City. Terakhir, memanfaatkan kolaborasi dengan Asian Development Bank (ADB) dan ASEAN untuk menggerakkan dukungan teknis dan finansial bagi proyek-proyek koridor dan inisiatif Green City yang telah direncanakan.

Pentingnya Forum untuk Percepatan Proyek

Menteri Koordinator Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa forum ini diharapkan dapat mempercepat pelaksanaan proyek-proyek strategis di kawasan. Ia mencontohkan bahwa ketiga negara anggota memiliki proyek kawasan ekonomi khusus yang dapat didorong untuk percepatan melalui kerja sama ini. Menurutnya, kehadiran Special Economic Zone di Sumatera Utara diharapkan dapat meningkat seiring dengan integrasi kerja sama di kawasan tersebut.

“Kita perlu mendorong percepatan proyek-proyek strategis di kawasan ini. Negara-negara seperti Malaysia, Thailand, dan Indonesia mempersiapkan Special Economic Zones mereka. Oleh karena itu, kami berharap Special Economic Zone di Sumatera Utara bisa tumbuh dengan cepat,” ujar Airlangga.

Peluang Kerja Sama Energi dan Konektivitas

Menteri Ekonomi Malaysia, Akmal Nasrullah, juga menyatakan bahwa forum ini membuka peluang baru untuk meningkatkan kerja sama antarnegara, khususnya dalam bidang energi baru terbarukan. Ia menyoroti pentingnya memperkuat rencana ASEAN Power Grid demi mencapai tujuan energi yang berkelanjutan. Selain itu, konektivitas antarnegara juga menjadi fokus, di mana proyek-proyek fisik yang sedang berjalan berkontribusi pada penguatan hubungan antara Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

“Saya bercanda dengan Menteri Airlangga bahwa perjalanan dari Kuala Lumpur ke Medan hanya memakan waktu satu jam, sedangkan ke Jakarta dua jam. Ini menunjukkan betapa pentingnya kedekatan geografis kita untuk dimanfaatkan sebaik mungkin,” ungkap Akmal.

Penerimaan Hangat dari Thailand

Sementara itu, Wakil Menteri di Kantor Perdana Menteri Thailand, Thanadit Raktabutr, menyampaikan apresiasi terhadap sambutan hangat yang diterima sepanjang acara. Ia juga menggarisbawahi pentingnya partisipasi Thailand dalam pertemuan ini, dan menyatakan komitmennya untuk hadir dalam pertemuan serupa di masa mendatang.

“Thailand merasa terhormat bisa berada di sini dan berpartisipasi dalam IMT-GT. Kami membawa 71 pejabat senior untuk menghadiri acara yang sangat berarti ini. Kami berharap untuk dapat berpartisipasi dalam pertemuan berikutnya yang akan diadakan di Malaysia, dan Thailand juga siap menjadi tuan rumah pertemuan di tahun 2028,” pungkasnya.

Related Articles

Back to top button